"Jangan Menunggu Bahagia Baru Tersenyum, Tapi Tersenyumlah, Maka Kamu Kian Bahagia"

Selasa, 24 Juli 2012

Mengapa 78% Umat Islam Mengawali Ramadan Pada 20 Juli 2012 (Bagian 1)

Pada awal Ramadan 20 Juli 2012 lalu, sebuah organisasi rukyatul hilal yang kondang Moonsighting merilis daftar negara-negara yang pemerintahnya telah resmi mengumumkan awal Ramadan (http://moonsighting.com/1433rmd.html). Dari 77 negara yang ada, 60 negara (77.9%) menentukan awal Ramadan jatuh pada 20 Juli 2012, dan 17 negara (22.1%) menentukan awal Ramadan jatuh pada 21 Juli 2012. Indonesia masuk dalam Kelompok 2.


 
Yang sangat menarik, dari ke 60 negara yang berada pada Kelompok 1 (20 Juli 2012), 47 di antaranya (61%) ternyata menyatakan "Follow Saudi". Apa penyebabnya?

Arab Saudi adalah satu-satunya negara di dunia yang menggunakan kalender Islam untuk semua aktifitas umumnya, kecuali bila aktifitas ini terkait sangat erat dengan sistem kalender internasional (Masehi). Untuk jadwal penerbangan, misalnya, karena ini terkait dengan jadwal2 penerbangan internasional, maka Arab Saudi tentu saja juga menggunakan kalender Masehi (Gregorian) ini. Nah, dalam penyusunan kalender Islam, peran Umm al-Qura University (UaQU) ternyata memegang peranan yang sangat penting. Dan, UaQU murni menyusun kalender Islam tersebut berdasarkan hisab (perhitungan astronomi). Hasilnyapun sangat akurat.

Kalau kita cek Yunus: 5 dalam Al Qur'an, memang kewajiban penyusunan kalender Islam adalah pada kaum yang berpengetahuan, dan universitas dalam hal ini dipercaya penuh untuk penyusunannya. Jadi sangat aneh mengapa di Indonesia kok malah otoritas politik (Departemen Agama) yang mengambil peran yang seharusnya diberikan pada para ilmuwan ini. Akibatnya tampak bias dan kental dengan politisasi dalam keputusan2 Departemen Agama dalam penyusunan kalender Islam di Indonesia.

Untuk penyusunan kalender Islam ini, UaQU telah melalaui 4 tahap perbaikan (catatan: ini berlajku untuk semua bulan Islam, bukan hanya Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah). Untuk penjelasan yang lebih detil, silahkan kinjungi website UaQU.

  • Sebelum 1395 AH – tak menentu. Beberapa sumber menyebutkan bahwa ketinggian hilal saat maghrib harus minimum 9° di atas hirizon Mekah. Jadi inilah kriteria imkan-rukyat yang digunakan saat itu.
  • 1395 AH - 1419 AH, kriteria yang digunakan adalah: Ketika ijtima terjadi kurang dari 3 jam daripada tengah malam di Saudi (baca: jam 0:00 GMT), bulan Islam dimulai pada maghrib sebelumnya. Sebaliknya, jika lebih dari 3 jam, maka maghrib hari berikutnya yang ditetapkan sebagai awal bulan Islam.
  • 1420 AH - 1422 AH: Pada hari ke 29 sebuah bulan Islam, maka hari berikutnya ditetapkan sebagai awal bulan Islam jika Matahari tenggelam mendahului Bulan. Jika Bulan tenggelam mendahului Matahari, maka dilakukan isti'mal atas bulan yang sedang berjalan. Dengan kriteria ini, terjadi sekali dalam setiap dua tahun, sebuah bulan Islam akan dimulai bahkan sebelum terjadi konjungsi.
  • Sejak 1423 AH: Jika pada hari ke 29 dalam bulan Islam dua kondisi ini terpenuhi, maka awal bulan Islam telah syah, yaitu:
  1. Konjungsi geosentri terjadi sebelum maghrib.
  2. Bulan tenggelam setelah Matahari tenggelam.
  3. Jika kondisi ini tidak terpenuhi, maka bulan berjalan digenapkan menjadi 30 hari (isti'mal).
 
Kriteria yang terakhir yang digunakan inilah yang ternayata cocok dengan kriteria Ya Sin: 38-40 seperti dalam animasi saya yang lalu:
lihat http://www.youtube.com/watch?v=Z7dWgl_hGgw&feature=plcp
atau http://www.youtube.com/watch?v=apk6LqEmnWk&feature=plcp

Karena Kalender UaQU hanya digunakan untuk keperluan umum, khusus untuk keperluan ibadah dalam hal yang terkait dengan awal puasa, awal Syawwal, dan awal Dzulhijjah, Majlis al-Qada al-A‘la (Mahkamah Agung) dapat menerima kesaksian hadirnya hilal yang dilaporkan oleh siapa saja (bahkan termasuk oleh yang tidak memiliki pengalaman), jika orang ini mau bersumpah. Mungkin ini dilalukan karena Rasul juga menerima kesaksian rakyatnya seperti ini.

Namun dari 42 kasus kesaksian, lebih dari 50% ternyata telah melakukan "false sighting" alias salah melihat. Salah melihat benda yang besinar seperti Venus atau bintang yang agak besar, atau bahkan contrail pesawat yang menjelang mendarat di sekitar ufuk barat. Ketika saya menyampaikan kemungkinan kesalahan seperti ini dalam sebuah milis (melihat pesawat yang mungkin berkilau memantulkan cahaya matahari), ada beberapa orang yang mentertawakan: katanya, masa "merukyat pesawat". Namun, ternyata ini telah terjadi, dan saya katakan inilah sumber kesalahan terbesar dari pengamatan manual oleh manusia. Ini adalah personal error yang menyebabkan blunder. Sangat berbahaya. Itulah sebabnya dalam navigasi moderen, pengamatan melalui bintang telah digantikan sepenuhnya oleh GPS. Kesalahan-kesalahan seperti inilah yang telah menyebabkan beberapa kali pengumuman di Arab Saudi ternyata melenceng dari hasil perhitungan astronomi umat Islam lain di dunia. Kalau tidak salah, pada 2006 atau 2007 lalu, Arab Saudi telah menetapkan hari Arafah yang lebih cepat sehari dibandingkan dengan hasil hitungan di Indonesia. Beberapa ormas Islam kemudian protes ke Kerajaan Arab Saudi. Mudah2 an, setelah pengalaman kesalahan yang lalu, Mahkamah Agung Arab Saudi tidak dengan mudah menerima sembarang kesaksian bersumpah. Walaupun itu sunnah, tapi minimal harus diverifikasi dengan bukti-bukti lain.

Terlepas dari kesaksian yang salah seperti disebutkan di atas, peran Majlis al-Qada al-A‘la memang sangat tepat. Ini lagi yang membedakan dengan kasus di Indonesia. Penetapan kalender memang bukan domain kebijaksanaan publik, tapi domain hukum. Jadi bagaimana mungkin kok ekeskutif (Departemen Agama) mengambil porsi kebijakan yang bukan merupakan domain eksekutif? Perbedaan selanjutnya, kalau Mahkamah Agung Arab Saudi justru menerima apapun kesaksian yang disumpah (ini kan sunnahnya), Departemen Agama RI malah selalu menganulir kesaksian perukyat (misal: Cakung dan FPI meskipun mereka telah bersumpah) karena mereka bertentangan dengan "kehendak" Departemen yang mempertahankan syarat 2 derajat imkan-rukyat? Ini sekali lagi menunjukkan bias. Beberapa sahabat saya menyebutnya kok jadi "ingkar rukyat"


(bersambung)

Sumber : cis-saksono.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar